Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia
![]() |
Jakarta adalah
ibu kota negara Indonesia yang berpenduduk 12 juta orang di siang hari dan 8
juta dikala malam. Jakarta juga merupakan miniatur Indonesia karena hampir
setiap etnik yang ada di Indonesia tinggal disana. Oleh karenanya, pimilhan
gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang diadakan pada bulan juli 2012
diandaikan banyak pihak sebagai pemilihan umum (pemilu) kecil Indonesia. Hasil keputusan
pemilukada gubernur dan wakil gubernur Jakarta dapat menunjukan kemungkinan
konfigurasi pemilu pada tahun 2014. Karena itulah, pemilukada Jakarta menjadi
sangat strategis bagi partai politik yang tengah bersaing. Selain itu, partai
politik juga hendak menguji prilaku pemilih Jakarta yang juga menunjukan
miniatur Indonesia mengenai seberapa kuat pengaruh karisma kandidat, kampanye
yang akan dijalankan, koalisi yang harus dibentuk dan lain-lain.
Masalah Kota
Jakarta tidak banyak berubah dari pertama kali Foke menjabat kursi gubernur
sampai pemilukada 2012 akan diselenggarakan yakni kemacetan, banjir dan
pemukiman kumuh. Padahal sebelum Foke mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta
antar program yang dijanjikan kepada pemilih adalah menyelesaikan ketiga
masalah tersebut. Naasnya, sampai pemilukada 2012 akan diadakan, ketiga masalah
tersebut tidak dapat beliau selesaikan. Malah sebaliknya bertambah sukar
dicarikan solusi terutama masalah kemacetan. Oleh karena itu, Pemilukada
Jakarta 2012 dari sisi pemilih menjadi arena penting untuk mencari program
kerja lain yang bakal ditawarkan oleh kandidat-kandidat dalam Pemilukada
gubernur 2012.
Ada enam calon
yang dibenarkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta untuk mengikuti
Pemilukada tahun 2012. Mereka ialah pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
(Foke-Nara), pasangan Hendardji-Ahmad Riza Patria, pasangan Jokowidodo-Basuki
Tjahja Purnama (Jokowi-Ahok), pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini,
pasangan Faisal Basari-Biem Benjamin dan pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono (Alex-Nono).
Dua dari enam kandidat yang bersaing dakam Pemilukada Jakarta adalah calon
independen, mereka adalah pasangan Hendarji Soepandi-Ahmad Riza Patria yang
mendapat dukungan 419.416 orang (ditunjukan dengan fotokopi KTP) dan pasangan
Faisal Basari-Biem Benjamin 487.150 orang, sedangkan empat pasangan lainnya
didukung oleh koalisi atau gabungan partai politik. Foke-Nara misalnya, didukung
oleh koalisi beberapa partai politik seperti Partai Demokrat (PD), Partai
Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Matahari Bangsa (PMB), dan
Partai Kebangkitan Nasional (PKN). Sementara itu, Jokowi-Ahok disokong oleh
koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan
Indonesia Raya (Gerindra). Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendukung pasangan
Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini dan pasangan Alex-Nono didukung oleh
gabungan Partai Golongan Karya (PG), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai
Damai Sejahtera (PDS), Partai Patriot (PP), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB),
Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia (PKDI) dan Partai Republik (PR).
Sebagai pemilih rasional, pemilih akan memilih kandidat yang dapat memaksimalkan tujuan hidupnya. Atau, selaku pemilih yang digerakan oleh latar sosiologis, maka ia akan memperhitungkan perkar lain yang tidak sama dengan paradigma pemilih berlatar psikososial. Ini berarti pemilih akan melakukan kalkulasi cermat untuk memilih kandidat. Salah satunya adalah program kerja yang ditawarkan semasa kampanye. Hendardji soepandji misalnya, calon gubernur dari calon independen berjanji memperbaiki masalah transportasi dengan cara peremajaan angkutan umum. Beliaupun turut mencanangkan ruang terbuka hijau yang semakin sukar dicari di Jakarta dan kawasan penataan pemukiman kumuh. Incumbent, Foke menjanjikan Jakarta pemerintahannya yang akan datang dapat menyelesaikan masalah kemacetan dan banjir. Sementara Hidayat Nur Wahid berjanji pada warga mengenai penyediaan layanan kesehatan. Beliau juga berjanji menyelesaikan masalah utama kota Jakarta seperti kemacetan, banjir dan rumah kumuh. Calon independen lain, Faisal Basari lebih menyoroti masalah efektifitas kerja birokrasi. Ini karena birokrasi dianggapnya tidak transparan dan terlalu berjenjang sehingga menyebabkan ketidak efesienan kerja. Masalah birokrasi juga menjadi sorotan pasangan Jokowi-Ahok, sedangkan Alex Noerdin gubernur Sumatera Selatan yang ikut bertanding, berjanji dalam tempo tiga tahun Jakarta bebas banjir dan macet.
Baca juga: Pengertian Good Governance
Dilihat dari
aspek sebaran etnik dan agama yang ada di Jakarta merupakan melting point
berbagai etnik dan agama yang ada di Indonesia. Jakarta saat ini dihuni oleh
35% suku Jawa, 28% suku betawi, 15% suku sunda dan 4% serta 3% etnik batak dan
minang. Selain itu, Jakarta juga didiami oleh kaum Cina yang berjumlah 6% dari
total warga jakarta yang berjumlah 10.187.595 jiwa (BPS 2012:79). Sedangkan sebaran
agama di Jakarta adalah 86% memeluk Islam, Kristen Protestan 6%, Katolik 4% dan
Hindu serta Budha berbagi 4% sisanya.
Merujuk kepada catatan diatas, maka setidaknya ada bebrapa analisis yang bisa dikembangkan. Pertama,
bersandar pada teori identifikasi partai, dipastikan pasangan Foke-Nara akan
menjadi pemenang sebab disokong oleh 45 kursi parlemen yang menunjukan besarnya
dukungan dari masing-masing partai. Pasangan lain tidak akan bisa mengejar
karena pesaing terdekatpun hanya akan mendapat 18% suara (pasangan Hidayat Nur
Wahid-Didik J. Rachbini). Kedua, jika alat ukurnya adalah etnik, maka pasangan
Foke-Nara menjadi pemenang sebab keduanya beretnik Betawi yang dapat menyapu
bersih 28% suara pemilih etnik Betawi, makala pasangan calon lain yang
mayoritas etnik Jawa akan memperebutkan etnik Jawa, Sunda, Minang, Batak dan
lainnya. Akibat perpecahan suara etnik tersebut, maka suara akan mengalir keras
kepad incumbent. Ketiga, nadai unit penialian adalah agama, maka akan sukar
untuk diprediksi. Ini karena mayoritas kandidat adalah beragama Islam sehingga
86% suara akan terbagi kepada enam kandidat yang tengah bersaing. Jika dirumuskan
secara ringkas maka terlihat kekuatan pasangan Foke-Nara lebih menonjol
dibanding pesaingnya.
Sebelum sampai
jawaban tersebut, kiranya perlu dielaborasi sedikit mengenai dinamika politik
pasca keputusan Pemilukada putarsan I. Satu yang menarik setelah kekalahan
Foke-Nara pada putaran I adalah bergabungnya partai pendukung kandidat lain
yang kalah seperti PD, PKS, Hanura, PG, PP dan PAN kepada Foke-Nara. Jika melihat
konfigurasi ini maka Jokowi-Ahok akan melawan kekuatan partai yang amat besar
dengan jumlah pendukung yang tidak sedikit. Andaikan semua suara kandidat yang
mendapat dukungan partai memberikan suaranya kepada Foke-Nara, maka akumulasi
suara mereka akan mencapai 2.187.404 suara. Jika dibandingkan dengan dengan
perolehan suara Jokowi-Ahok pada putaran I tentu saja suara ini akan bisa
mengantarkan Foke-Nara ke singgahsana kursi gubernur Jakarta. Bahkan apabila
semua suara Faisal-Biem dan Hendardji-Ahmad Riza dilimpahkan kepada Jokowi-Ahok, kedudukan tetap dimenangkan Foke-Nara. Namun persoalannya,
mengapa Foke Nara tetap kalah dalam putaran II padahal sudah disokong oleh
partai-partai besar. Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan pasangan
Foke-Nara kalah dalam Pemilukada putaran II.
Pertama,
personaliti calon, dalam hal ini imaj Foke sendiri yang tidak mendukung dirinya
untuk menjadi pemimpin yang mudah diterima rakyat banyak. Ini karena Foke
dikenal sebagai individu yang tempramental, tidak bisa menerima kritik dan
bersikap elitis. Misalnya, Hidayat Nur Wahid pernah menyatakan bahwa Foke mudah
marah jika dikritik warganya. Karena begini tentu saja membuat imejnya sebagai
pemimpin memudar atau dalam arti kata lain pemimpin seperti ini susah diterima
rakyat. Disamping itu, Foke pun kerap cemberut dan marah-marah saat mengahadapi
jurnalis yang tengah meliputnya. Padahal untuk menjadi seorang pemimpin, Foke
harus legowo dalam menerima kritik dan masukan, apalagi kritikan tersebut
kritik membangun atas jalannya pemerintahan yang dia jalani sebelumnya. Ini berbeda
dengan karakter Joko Widodo yang murah senyum, mudah menerima masukan dan
kritik, bersikap merakyat dan dikenal bersih dari isu rasuah. Bukan hanya itu.
Joko Widodo mengukuhkan dirinya dengan berbagai prestasi yang telah diukirnya
selama menajdi Bupati Solo.
Kedua, peranan
media massa dan media sosial yang makan tuan. Tim kampanye Foke nampaknya tidak
berhasil memainkan isu kampanye melalui media massa dan media sosial dengan
cerdik sehingga pemilih Jakarta yang semakin rasional semakin mencemoohnya. Salah
satu isu kampanye digulirkan semasa
kampanye Pemilukada putaran II adalah SARA. Beberapa kenyataan seperti “jangan
pilih pimpinan yang tidak seagama!”, “kalau Ahok menang greja akan bertambah”, “Jokowi
hanya memberikan bantuan kepada warga non Muslim”dan lain-lain, menjadi
kampanye hitam kala itu. Bahkan dalam konteks ini, Rhoma Irama dipaksa untuk ikut bagian dalam
menentang berjayanya pasangan Jokowi-Ahok di Jakarta. Semua proses ini telah
mematangkan pemilih Jakarta ke arah yang lebih rasional.
Ketiga,
manifesto kandidat. Dari segi manifesto yang dikemukakan oleh pasangan yang
bersaing, manifesto Foke-Nara terlalu sederhana dibandingkan manifesto
Jokowi-Ahok. Manifesto Foke-Nara bertajuk “Foke-Nara putra betawi janjikan
jakarta maju nan cantik”. Isi manifesto Foke-Nara dalam pandangan penulis
terlalu normatif sehingga kurang menarik perhartian. Ini berbeda dengan
manifesto yang ditawarkan oleh Jokowi-Ahok. Mereka mancanangkan visi mereka
dengan jargon “Jakarta baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi hunian yang
layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan
pemerintah yang berorientasi pada pelayanan publik”. Tidak hanya itu. Pasangan ini
juga menurunkan visa kedalam misi dan
bidang-bidang kerja yang kongkret seperti bidang penataan kota,
transportasi, kesehatan, kebudayaan, pelayanan publik hingga upaya mengatasi
banjir. Kareana itulah, wajar jika manifesto Jokowi-Ahok lebih menarik minat dan
pemilih Jakarta yang rasional.
Baca juga: Pilkada dan Biaya Politik Tinggi
Keempat, gagalnya partai-partai pengusung Foke-nara dalam bekerjasama. Kegagalan ini bisa dilihat dari ketidak mampuan pasangan Foke-nara untuk mendulang suara di kawasan-kawasan yang dihuni oleh elit-elit partai pendukung Foke. Mesin partai tidak berhasil bekerja secara baik sehingga perolehan suara Foke-Nara tidak memuaskan. Ini berbeda dengan partai pengusung Jokowi-Ahok. Pasangan ini berhasil mendulang suara besar di kawasan-kawasan yang dihuni oleh elit-elit partai pendukungnya.
Leo agustino. 2014. politik lokal dan otonomi daerah. Bandung : alfabeta.
Komentar